Empati Kunci Leader Sukses di Era Hybrid 2026


STATISTIK PENTING: Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan 2024, 67% perusahaan di Indonesia telah menerapkan sistem hybrid work sejak 2022, namun 80% di antaranya tidak memiliki kebijakan yang jelas. Akibatnya, konflik HR meningkat 40%. Di tengah transformasi kerja ini, empati menjadi kunci utama kesuksesan kepemimpinan yang sering terabaikan.

Era hybrid work telah mengubah lanskap kepemimpinan secara fundamental. Survei Badan Kepegawaian Negara (BKN) pada Maret 2025 menunjukkan bahwa 97,5% Aparatur Sipil Negara (ASN) setuju dengan penerapan sistem kerja hybrid. Sementara itu, survei Logitech terhadap 500 profesional Indonesia menemukan bahwa 62% karyawan lebih memilih bekerja secara hybrid dibandingkan model lainnya.

Namun, fleksibilitas kerja ini membawa tantangan baru bagi para pemimpin. Bagaimana memastikan komunikasi efektif ketika tim tersebar di lokasi berbeda? Bagaimana menjaga budaya organisasi dan kolaborasi ketika sebagian karyawan bekerja dari rumah? Jawabannya terletak pada satu kompetensi krusial yang sering diabaikan: empati.

Artikel ini akan mengungkap rahasia bagaimana empati menjadi senjata ampuh pemimpin modern untuk sukses di era hybrid work, lengkap dengan data penelitian terbaru, strategi praktis, dan panduan implementasi yang telah terbukti efektif.


Daftar Isi

Ringkasan Cepat: Rahasia Empati untuk Leader Hybrid

Empati Kunci Leader Sukses di Era Hybrid 2026

Berdasarkan riset Ernst & Young 2021, kepemimpinan empatik terbukti meningkatkan:

  • 87% efisiensi operasional
  • 87% kreativitas tim
  • 86% tingkat inovasi
  • 81% pendapatan perusahaan

Di era hybrid work, empati membantu pemimpin memahami konteks personal setiap karyawan yang bekerja dalam kondisi berbeda—mulai dari yang mengasuh anak di rumah hingga yang menghadapi lingkungan kurang kondusif.

Studi Catalyst 2021 menunjukkan 61% karyawan akan lebih inovatif jika dipimpin oleh pemimpin senior yang memiliki empati tinggi.


Mengapa Empati Jadi Krusial di Era Hybrid Work Indonesia 2026

Empati Kunci Leader Sukses di Era Hybrid 2026

Berdasarkan survei Indonesia’s Central Statistics Agency 2023, lebih dari 60% profesional muda mencari peran yang menawarkan perpaduan kerja remote dan in-office. Penetrasi internet Indonesia telah melampaui 77% populasi menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, memfasilitasi aksesibilitas ke layanan cloud dan platform kolaborasi.

Namun, transformasi digital ini tidak otomatis menjamin kesuksesan organisasi. Studi yang diterbitkan dalam jurnal akademik menunjukkan bahwa pemimpin di era hybrid dituntut mengembangkan keterampilan baru seperti komunikasi digital yang efektif, pendekatan kepemimpinan berbasis hasil, dan empati yang mendalam.

Harvard Business Review menekankan: Selama transisi hybrid, pemimpin yang berhasil adalah yang tetap “memanusiakan” anggota timnya—mengenal mereka sebagai individu, bukan sekadar sumber daya.

Data Konkret: Dampak Empati terhadap Kinerja Organisasi

Riset Ernst & Young 2021 tentang komunikasi empati di tempat kerja menemukan hasil yang signifikan:

Peningkatan Kinerja dengan Kepemimpinan Empatik:

  • 87% peningkatan efisiensi – Tim yang dipimpin dengan empati bekerja lebih terorganisir dan fokus
  • 87% peningkatan kreativitas – Karyawan merasa aman untuk mengeksplorasi ide-ide baru
  • 86% peningkatan inovasi – Lingkungan empatik mendorong eksperimen dan pembelajaran
  • 81% peningkatan pendapatan perusahaan – Kombinasi efisiensi dan inovasi berdampak langsung pada bottom line

Studi Catalyst 2021 menambahkan bahwa 61% karyawan akan lebih inovatif jika dipimpin oleh pemimpin senior yang memiliki empati tinggi. Lebih lanjut, 76% karyawan dengan pemimpin senior yang empatik merasa lebih engage dengan pekerjaan mereka.

Tantangan Unik Kepemimpinan Hybrid di Indonesia

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh BBS EBC Malang, ada beberapa tantangan utama yang dihadapi pemimpin di era hybrid:

1. Kesenjangan Komunikasi: Pemimpin harus mampu menjembatani kesenjangan komunikasi antara karyawan yang bekerja di lokasi berbeda. Kekurangan komunikasi dapat menyebabkan miskomunikasi, isolasi karyawan, dan hilangnya sense of belonging.

2. Menjaga Budaya Organisasi: Ketika tim tersebar, mempertahankan budaya organisasi yang kohesif menjadi tantangan besar yang memerlukan pendekatan berbeda dari era tradisional.

3. Konteks Personal yang Beragam: Situasi kerja yang fleksibel berarti kondisi kerja setiap individu bisa sangat berbeda. Ada yang bekerja sambil mengasuh anak di rumah, ada yang tinggal sendiri dan merasa kesepian, ada pula yang terganggu dengan lingkungan rumah yang kurang kondusif.


Rahasia Kepemimpinan Empatik yang Efektif di Era Hybrid

Empati Kunci Leader Sukses di Era Hybrid 2026

Penelitian terbaru dalam Journal Inovasi Manajemen (2025) menunjukkan bahwa empati memperkuat hubungan interpersonal, menciptakan rasa saling percaya, dan mendukung komunikasi efektif. Generasi Z yang memiliki kemampuan empatik lebih mampu menavigasi interaksi lintas budaya dan menghadapi tekanan kerja.

1. Komunikasi Empati: Lebih dari Sekadar Mendengar

Berdasarkan riset yang dipublikasikan di Kompas (2022), komunikasi kepemimpinan yang empati dapat menghadirkan empati dan mempertajam interaksi. Riset Ving 2014 menemukan bahwa 71% karyawan merasa pemimpinnya tidak menghabiskan waktu yang proporsional untuk menjelaskan nilai dan tujuan perusahaan.

Langkah Praktis Menerapkan Komunikasi Empati:

One-on-one meeting berkualitas – Jangan hanya bahas tugas, tapi tanyakan kabar, tantangan pribadi yang mungkin memengaruhi kerja, dan bagaimana organisasi bisa membantu

Jadwal pertemuan tatap muka teratur – 45% karyawan menilai ini membantu mereka merasa lebih terkoneksi (Ernst & Young 2021)

Ruang untuk umpan balik anonim – 42% karyawan menganggap ini penting untuk komunikasi jujur

Partisipasi dalam capacity building – 37% menilai ini menunjukkan kepedulian pemimpin terhadap pengembangan tim

Pengingat bahwa karyawan ada di ruang aman – Ciptakan psychological safety untuk diskusi terbuka

2. Outcome-Based Leadership: Fokus pada Hasil, Fleksibel pada Proses

Model hybrid mendorong transformasi dari kepemimpinan berbasis kehadiran fisik menjadi outcome-based leadership. Penelitian Priyadarshini dan Dave (2022) menunjukkan bahwa pendekatan berbasis hasil menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan efisien.

Pemimpin yang adaptif dapat menciptakan tim yang lebih beragam dan inovatif dengan memanfaatkan kebebasan lokasi untuk merekrut talenta terbaik dari berbagai belahan Indonesia.

Implementasi Outcome-Based Leadership:

  • Tetapkan KPI yang jelas dan terukur – Fokus pada deliverable, bukan jam kerja
  • Berikan otonomi dalam metode kerja – Percayai tim untuk menemukan cara terbaik mencapai target
  • Gunakan data dan analytics – Lacak progress berbasis metrik objektif, bukan asumsi
  • Feedback berbasis pencapaian – Evaluasi berdasarkan kontribusi nyata, bukan visibility di kantor
  • Rayakan hasil, bukan proses – Apresiasi pencapaian tim terlepas dari lokasi kerja mereka

3. Membangun Kepercayaan di Lingkungan Terdistribusi

Studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Social, Policy and Law (2025) menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional—yang berpusat pada inspirasi, motivasi, dan pemberdayaan karyawan—terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi dan kinerja di lingkungan hybrid.

Kepercayaan menjadi fondasi utama ketika pengawasan langsung tidak lagi memungkinkan. Pemimpin harus beralih dari kontrol mikromanajemen ke pemberdayaan tim.

Riset Rasmuss Hoggard dan Jacqueline Carter: Karyawan yang bekerja untuk manajer yang penuh kasih 25% lebih terlibat dalam pekerjaan mereka, 20% lebih berkomitmen pada organisasi, dan 11% lebih kecil kemungkinannya untuk burnout.

4. Teknologi sebagai Enabler Empati, Bukan Penghalang

Menurut data Indonesia Facility Management Market (2026), penerapan sensor networks dan analytics platforms yang mengintegrasikan data okupansi dengan sistem HVAC, pencahayaan, dan keamanan dapat mencapai penghematan energi hingga 8,5%.

Namun, teknologi harus digunakan untuk memperkuat koneksi manusia, bukan menggantinya:

Strategi Teknologi yang Humanis:

  • 📱 Platform kolaborasi inklusif – Slack, Microsoft Teams, Zoom dengan etika penggunaan yang jelas
  • 📱 Check-in virtual yang terstruktur – Bukan hanya untuk monitoring, tapi untuk mendengarkan
  • 📱 Dokumentasi transparan – Pastikan semua anggota tim punya akses informasi yang sama
  • 📱 Virtual coffee breaks – Sediakan ruang informal untuk interaksi sosial
  • 📱 Asynchronous communication – Hormati zona waktu dan ritme kerja berbeda

Studi Kasus: Transformasi Kepemimpinan di Perusahaan Indonesia

Empati Kunci Leader Sukses di Era Hybrid 2026

Berdasarkan data yang terdokumentasi dalam riset akademik tentang hybrid work di Indonesia, beberapa perusahaan besar telah berhasil menerapkan kepemimpinan empatik:

Telkomsel: Penyesuaian Kebijakan Hybrid per Divisi

Telkom Indonesia menyesuaikan kebijakan hybrid untuk tim engineering, pemasaran, dan back office. Karyawan tetap dimonitor secara output-based menggunakan sistem HR digital. Pendekatan ini menunjukkan pemahaman bahwa satu ukuran tidak cocok untuk semua—sebuah bentuk empati terhadap kebutuhan berbeda setiap divisi.

Gojek dan Tokopedia: Remote-First dengan Sentuhan Personal

Perusahaan teknologi besar Indonesia seperti Gojek dan Tokopedia telah memperkenalkan kebijakan hybrid working sebagai strategi jangka panjang mereka, menekankan fleksibilitas sambil mempertahankan budaya kolaboratif melalui touchpoint tatap muka yang terencana.

Bank DBS Indonesia: Adaptasi Budaya Kerja

Penelitian oleh Ainurrofiq (2022) tentang penerapan hybrid working model di PT Bank DBS Indonesia menunjukkan bagaimana perubahan budaya kerja dapat dikelola dengan efektif melalui komunikasi yang jelas dan kebijakan yang mendukung kesejahteraan karyawan.


Compassionate Leadership: Evolusi Kepemimpinan di Abad 21

Empati Kunci Leader Sukses di Era Hybrid 2026

Jeff Weiner, mantan CEO LinkedIn, memformulasikan compassion dalam rumus sederhana namun powerful: empati + tindakan. Ini berarti empati bukan hanya perasaan, tetapi harus diterjemahkan menjadi aksi nyata.

Data Riset tentang Compassionate Leadership

Workplace Empathy Study (2019) menemukan bahwa 90% karyawan percaya empati sangat vital, dan 8 dari 10 karyawan akan meninggalkan perusahaan yang pemimpinnya kurang empati. Pandemi COVID-19 membuat compassion menjadi jauh lebih penting dari sebelumnya.

Survei Deloitte (2021) terhadap 23.000 orang di 45 negara menyebutkan bahwa 49% orang berusia 18-25 tahun dan 44% yang berusia 25-39 tahun memilih pekerjaan berdasarkan etika personal yang dimiliki perusahaan.

Karakteristik Compassionate Leaders:

  • Inklusif – Memastikan semua suara didengar, terlepas dari lokasi kerja
  • Suportif – Memberikan dukungan yang dibutuhkan tim untuk sukses
  • Arif dan bijaksana – Membuat keputusan yang mempertimbangkan dampak manusiawi
  • Jujur dan apa adanya – Transparansi membangun kepercayaan
  • Berpikiran terbuka – Menerima feedback dan bersedia beradaptasi
  • Fokus kontribusi – Memberikan usaha terbaik untuk kesejahteraan tim

Strategi Praktis Mengembangkan Empati sebagai Leader Hybrid

1. Active Listening dalam Setting Virtual

Keterampilan mendengarkan secara aktif menjadi lebih krusial di era hybrid. Pemimpin perlu memberikan perhatian penuh saat berinteraksi dengan tim, bahkan melalui layar.

Teknik Active Listening Virtual:

  • 🎧 Matikan distraksi – Tutup tab lain, nonaktifkan notifikasi selama meeting
  • 🎧 Gunakan video call untuk diskusi penting – Bahasa tubuh tetap penting
  • 🎧 Parafrase untuk konfirmasi – “Jadi yang kamu maksud adalah…”
  • 🎧 Ajukan pertanyaan terbuka – Dorong elaborasi, bukan jawaban ya/tidak
  • 🎧 Berikan waktu respons – Jangan terburu-buru dalam percakapan virtual

2. Coaching dan Mentoring Individual

Jika ada anggota tim yang tampak menurun kinerjanya, dekati dengan empati—mungkin ada kesulitan adaptasi atau masalah di rumah—daripada langsung dengan teguran. Pendekatan coaching dan mentoring individual sangat cocok diterapkan oleh pemimpin hybrid.

3. Kebijakan yang Mendukung Kesejahteraan

Empati harus diterjemahkan dalam kebijakan konkret:

  • 🏠 Jam kerja fleksibel – Akomodasi kebutuhan personal seperti menjaga anak atau kondisi kesehatan
  • 🧘 Mental health support – Program konseling dan wellness untuk kesehatan mental
  • 💼 Subsidi coworking space – Untuk karyawan yang kesulitan bekerja dari rumah
  • 💻 Dukungan teknologi – Pastikan semua karyawan punya akses tools yang memadai
  • 🔌 Kebijakan disconnect – Hak untuk tidak merespons komunikasi kerja di luar jam kerja

4. Adaptabilitas dan Growth Mindset

Peran pemimpin sebagai agen perubahan sangat krusial. Diperlukan mentalitas growth mindset yang selalu siap belajar dan beradaptasi. Tidak ada “panduan tunggal” yang langsung sempurna, sehingga pemimpin harus peka terhadap umpan balik dan data, melakukan perbaikan berkelanjutan.

Kepemimpinan adaptif, sebagaimana digagas oleh Ronald Heifetz, relevan di sini—yakni kemampuan memobilisasi tim untuk menghadapi tantangan kompleks dengan solusi inovatif.


Mengatasi Tantangan Implementasi di Konteks Indonesia

1. Kesenjangan Digital Antar Wilayah

Meskipun penetrasi internet telah mencapai 77%, ketersediaan dan kualitas koneksi internet yang beragam di berbagai wilayah Indonesia dapat menciptakan kesenjangan digital. Pemimpin empatik perlu:

  • 📶 Survey kondisi karyawan – Pahami tantangan infrastruktur masing-masing
  • 📶 Sediakan alternatif – Subsidi internet atau akses coworking space
  • 📶 Fleksibilitas jadwal – Akomodasi jika koneksi tidak stabil di waktu tertentu
  • 📶 Asynchronous work – Tidak semua harus real-time jika infrastruktur terbatas

2. Ketimpangan Akses Peralatan Teknologi

Tidak semua karyawan memiliki akses ke peralatan teknologi yang memadai. Beberapa mungkin bekerja dengan perangkat dan akses internet yang terbatas. Solusinya:

  • 💻 Penyediaan laptop/perangkat kerja – Investasi dalam tools yang memadai
  • 💰 Tech allowance – Tunjangan untuk upgrade peralatan pribadi
  • 🛠️ IT support yang responsif – Bantuan teknis mudah diakses

3. Menjaga Keterlibatan dan Budaya Organisasi

Berdasarkan riset, menjaga keterlibatan dan budaya organisasi menjadi tantangan utama di era hybrid. Strategi yang terbukti efektif:

  • 🎮 Virtual team building – Aktivitas yang dirancang khusus untuk bonding online
  • 🤝 In-person touchpoint terencana – Quarterly gathering atau workshop
  • 📅 Ritual tim yang konsisten – Weekly check-in, monthly celebration
  • 📖 Storytelling budaya – Share nilai-nilai perusahaan secara regular
  • 🏆 Recognition program – Apresiasi yang visible untuk semua anggota tim

Mengukur Keberhasilan Kepemimpinan Empatik

Untuk memastikan strategi empati berjalan efektif, pemimpin perlu mengukur dampaknya:

Key Performance Indicators (KPI) Kepemimpinan Empatik:

  • 📊 Employee engagement score – Survey berkala tentang keterlibatan karyawan
  • 📊 Retention rate – Tingkat retensi karyawan meningkat
  • 📊 Produktivitas tim – Output dan kualitas kerja meningkat
  • 📊 Inovasi dan kreativitas – Jumlah ide baru yang diajukan tim
  • 📊 Psychological safety index – Karyawan merasa aman berbicara terbuka
  • 📊 Work-life balance satisfaction – Kepuasan terhadap keseimbangan kerja-kehidupan
  • 📊 eNPS (Employee Net Promoter Score) – Kesediaan merekomendasikan perusahaan

Tren Masa Depan: Hybrid Work di Indonesia 2026 dan Seterusnya

Berdasarkan Indonesia Facility Management Market Analysis Report (2026-2031), pasar facility management Indonesia diproyeksikan tumbuh dari USD 12,86 miliar pada 2025 menjadi USD 17,77 miliar pada 2031, dengan CAGR 5,55%. Adopsi kebijakan hybrid work mendorong landlord dan tenant meningkatkan efisiensi utilisasi ruang.

Integrasi AI dan Otomasi

Tren yang akan mendominasi:

  • 🤖 AI untuk summarizing meeting otomatis – Dokumentasi yang lebih efisien
  • 🤖 Tracking progress AI-driven – Monitoring berbasis data, bukan asumsi
  • 🤖 Otomasi tugas administratif – Lebih banyak waktu untuk interaksi bermakna
  • 🤖 AI assistant untuk komunikasi lintas zona waktu – Memfasilitasi kolaborasi global
  • 🤖 Virtual office berbasis metaverse – Potensi cara baru berinteraksi

Namun, di tengah semua kemajuan teknologi ini, empati manusia tetap menjadi diferensiator utama. Teknologi dapat difasilitasi, tetapi koneksi emosional dan pemahaman mendalam terhadap kondisi manusia tidak bisa digantikan oleh algoritma.

Baca Juga Mindful Tech Gunakan HP Bijak Tanpa Adiksi 2026


FAQ: Rahasia Empati Bikin Leader Sukses di Era Hybrid

1. Apa perbedaan empati dan simpati dalam konteks kepemimpinan hybrid?

Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain dari perspektif mereka, sementara simpati lebih kepada perasaan kasihan. Dalam kepemimpinan hybrid, empati berarti memahami tantangan spesifik karyawan yang bekerja remote (seperti isolasi atau gangguan di rumah) dan mengambil tindakan konkret untuk membantu, bukan hanya merasa kasihan. Jeff Weiner merumuskannya sebagai: compassion = empati + tindakan.

2. Bagaimana cara mengembangkan empati jika saya secara alami bukan orang yang empatik?

Empati adalah skill yang bisa dipelajari dan dikembangkan. Mulai dengan: (1) Praktik active listening tanpa judgement, (2) Ajukan pertanyaan terbuka untuk memahami perspektif orang lain, (3) Perhatikan bahasa tubuh dan nada bicara dalam komunikasi virtual, (4) Luangkan waktu untuk one-on-one meeting berkualitas, (5) Refleksikan asumsi Anda dan tantang bias pribadi. Research menunjukkan bahwa dengan latihan konsisten, kemampuan empati dapat meningkat signifikan.

3. Apakah empati berlebihan bisa berdampak negatif pada kepemimpinan?

Ya, empati tanpa boundaries bisa menyebabkan burnout dan keputusan yang tidak objektif. Kuncinya adalah balanced empathy—memahami perasaan tim namun tetap membuat keputusan berdasarkan data dan kepentingan organisasi. Pemimpin perlu menetapkan batasan yang jelas, mendelegasikan tanggung jawab dengan adil, dan tidak mengambil semua beban emosional tim. Compassionate leadership berarti empati + tindakan yang terukur, bukan empati yang melumpuhkan.

4. Bagaimana mengukur ROI dari investasi dalam kepemimpinan empatik?

Berdasarkan riset Ernst & Young 2021, kepemimpinan empatik meningkatkan efisiensi (87%), kreativitas (87%), inovasi (86%), dan pendapatan perusahaan (81%). KPI yang bisa diukur meliputi: employee retention rate, engagement score, productivity metrics, innovation rate (jumlah ide baru), eNPS, dan absenteeism rate. Studi Rasmuss Hoggard juga menunjukkan karyawan yang bekerja untuk manajer yang penuh kasih 25% lebih terlibat dan 11% lebih kecil kemungkinannya untuk burnout.

5. Apa tantangan terbesar dalam menerapkan kepemimpinan empatik di era hybrid?

Tantangan utama adalah kesenjangan komunikasi dan hilangnya nuansa interaksi tatap muka. Di Indonesia, tantangan tambahan termasuk kesenjangan digital (kualitas internet bervariasi), perbedaan budaya kerja antar generasi, dan kesulitan membangun kepercayaan tanpa interaksi fisik regular. Solusinya: investasi dalam teknologi kolaborasi yang inklusif, jadwal touchpoint tatap muka yang terencana, kebijakan yang mendukung kesejahteraan, dan training kepemimpinan yang spesifik untuk konteks hybrid.

6. Bagaimana cara memastikan semua anggota tim merasa diperlakukan adil dalam setting hybrid?

Terapkan prinsip equity, bukan equality. Artinya, berikan dukungan sesuai kebutuhan spesifik masing-masing, bukan perlakuan yang identik. Pastikan: (1) Kebijakan hybrid yang transparan dan konsisten, (2) Evaluasi berbasis output, bukan visibility, (3) Akses yang sama ke informasi dan peluang pengembangan, (4) Recognition yang visible untuk semua lokasi kerja, (5) Regular check-in untuk memahami kebutuhan unik setiap anggota tim. Riset menunjukkan bahwa persepsi keadilan adalah faktor kunci dalam kepuasan kerja hybrid.

7. Apakah kepemimpinan empatik cocok untuk semua industri dan budaya organisasi?

Ya, meskipun implementasinya perlu disesuaikan dengan konteks. Studi lintas budaya menunjukkan bahwa empati adalah nilai universal yang dihargai di semua industri—dari teknologi hingga manufaktur, dari startup hingga korporasi besar. Namun, cara mengekspresikan empati bisa berbeda: industri kreatif mungkin lebih informal, sementara sektor keuangan lebih terstruktur. Yang penting adalah autentisitas dan konsistensi dalam menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan tim sambil mencapai tujuan bisnis.


Rahasia Empati Bikin Leader Sukses di Era Hybrid 2026

Di tengah transformasi besar-besaran menuju model kerja hybrid yang diadopsi oleh 67% perusahaan Indonesia, empati bukan lagi soft skill yang optional—melainkan kompetensi krusial yang membedakan pemimpin biasa dengan pemimpin sukses.

Ringkasan Key Takeaways:

Empati terbukti meningkatkan bottom line – Riset Ernst & Young menunjukkan peningkatan efisiensi (87%), kreativitas (87%), inovasi (86%), dan pendapatan (81%)

Hybrid work membutuhkan pendekatan kepemimpinan baru – Dari kontrol mikromanajemen ke pemberdayaan berbasis kepercayaan

Komunikasi empatik adalah fondasi – One-on-one meeting berkualitas, active listening, dan kebijakan yang mendukung kesejahteraan

Outcome-based leadership menggantikan presence-based – Fokus pada hasil, fleksibel pada proses

Teknologi sebagai enabler, bukan pengganti empati – AI dan otomasi mendukung, tapi koneksi manusia tetap esensial

Compassion = Empati + Tindakan – Perasaan harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi konkret

Adaptabilitas dan growth mindset krusial – Tidak ada panduan tunggal, perlu iterasi berkelanjutan

Berdasarkan proyeksi Indonesia Facility Management Market, pasar akan tumbuh dari USD 12,86 miliar (2025) menjadi USD 17,77 miliar (2031). Adopsi kebijakan hybrid work akan terus meningkat, didorong oleh preferensi 97,5% ASN dan 62% profesional Indonesia yang memilih model ini.

Dalam landscape yang terus berubah ini, pemimpin yang akan sukses adalah mereka yang mampu:

  • Memahami konteks personal unik setiap anggota tim
  • Mengkomunikasikan visi dengan empati dan transparansi
  • Memberdayakan tim dengan kepercayaan dan otonomi
  • Mengadaptasi strategi berdasarkan feedback dan data
  • Mengintegrasikan teknologi dengan sentuhan manusiawi
  • Mengukur dampak melalui KPI yang holistik

Mulai Transformasi Kepemimpinan Anda Hari Ini

Era hybrid work adalah realitas baru yang permanen. Investasi dalam mengembangkan empati sebagai leader bukan hanya tentang menjadi pemimpin yang lebih baik—tetapi tentang membangun organisasi yang lebih resilient, inovatif, dan humanis.

Pertanyaan untuk refleksi: Seberapa empatik kepemimpinan Anda saat ini? Apa satu tindakan konkret yang bisa Anda ambil minggu ini untuk meningkatkan empati dalam tim hybrid Anda?


Bernice Edelman – Praktisi dan peneliti di bidang Personal Development, Lifestyle, dan Career dengan pengalaman lebih dari 10 tahun membantu organisasi dan individu menavigasi transformasi dunia kerja. Spesialisasi dalam kepemimpinan modern, employee experience, dan strategi hybrid work. Bernice percaya bahwa kepemimpinan yang efektif di era digital dimulai dari kemampuan memahami dan merespons kebutuhan manusia dengan empati yang autentik.


Referensi

  1. Ernst & Young (2021). Riset Komunikasi Empati di Tempat Kerja. Sumber: Kompas.com
  2. Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia (2024). Data Implementasi Hybrid Work. Sumber: Talentiv Academy
  3. Badan Kepegawaian Negara (BKN) (2025). Survei Sistem Kerja Hybrid ASN. Sumber: IDN Times
  4. Logitech Indonesia (2025). Survei Preferensi Kerja 500 Profesional Indonesia. Sumber: Kitalulus
  5. Catalyst (2021). Empathy @ Work Study. Sumber: Warta Online
  6. Priyadarshini, C., & Dave, D. (2022). Leadership in the Hybrid Workplace: Balancing Flexibility and Productivity. Journal of Business Strategy, 43(2), 45–60
  7. Indonesia’s Central Statistics Agency (2023). Survey Profesional Muda. Sumber: Deskimo
  8. Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia. Data Penetrasi Internet Indonesia. Sumber: Deskimo
  9. Indonesia Facility Management Market Analysis Report (2026-2031). ResearchAndMarkets.com
  10. BPS – Badan Pusat Statistik (2025). Employment Statistics Indonesia
  11. Muss, C., Tüxen, D., & Fürstenau, B. (2025). Empathy in leadership: A systematic literature review. Management Review Quarterly
  12. Jurnal Inovasi Manajemen, Kewirausahaan, Bisnis dan Digital (2025). Empati dan Generasi Z di Dunia Kerja
  13. McKinsey & Company (2022). How to Lead in a Hybrid Environment. Scharf, S., & Weerda, K.
  14. Harvard Business Review. Leadership in Hybrid Work Transition
  15. Hoggard, R. & Carter, J. Research on Compassionate Management
  16. Deloitte (2021). Survey 23.000 Respondents on Work Preferences
  17. Ainurrofiq, I. (2022). Analisis penerapan hybrid working model di PT Bank DBS Indonesia. Universitas Bakrie

By bernikoyanuar

Saya percaya bahwa karier bukan cuma soal jabatan, tapi juga soal nilai dan arah. Di sini saya berbagi strategi pengembangan diri, personal branding, dan kehidupan profesional yang tetap manusiawi.