56,8% Pekerjaan di Indonesia Memakai Keterampilan AI dan Digital

Pekerjaan

56,8% pekerjaan di Indonesia disebut memakai keterampilan AI dan digital. Simak perubahan dunia kerja, skill yang dibutuhkan, peluang, dan tantangannya.

berniceedelman – Dunia kerja Indonesia sedang masuk ke fase yang completely different dibanding satu dekade lalu. Dulu, kemampuan menggunakan Microsoft Office mungkin sudah cukup dianggap sebagai digital skill. Sekarang? Bisa menggunakan spreadsheet saja belum tentu cukup. Perusahaan mulai mencari orang yang memahami data, mampu bekerja menggunakan platform digital, familiar dengan automation, dan increasingly mampu memanfaatkan artificial intelligence atau AI.

Di tengah transformasi tersebut, muncul angka bahwa 56,8% pekerjaan di Indonesia memakai atau membutuhkan keterampilan AI dan digital. Angka ini memberikan gambaran menarik mengenai bagaimana teknologi semakin masuk ke aktivitas kerja sehari-hari. Namun, angka 56,8% tersebut perlu dibaca dengan hati-hati karena penelusuran sumber publik belum menemukan sumber primer yang secara persis memverifikasi persentase tersebut. Jadi, angka ini lebih tepat diperlakukan sebagai premis atau data survei yang perlu dicantumkan sumber aslinya sebelum dipublikasikan sebagai statistik resmi.

Meski begitu, tren besarnya jelas. Data terbaru menunjukkan kemampuan AI dan digital memang semakin valuable. Asian Development Bank (ADB), misalnya, pada 2026 menemukan permintaan digital skills telah menyebar ke berbagai struktur pekerjaan dan tidak lagi terbatas pada pekerjaan teknologi informasi tingkat lanjut. Bahkan intermediate dan advanced digital skills dapat memberikan wage premium yang signifikan.

Sementara PwC menemukan adopsi AI di kalangan pekerja Indonesia sudah cukup tinggi. Dalam survei yang mencakup 812 responden Indonesia, 69% menyatakan telah menggunakan AI dalam 12 bulan terakhir, sementara 16% menggunakannya setiap hari.

Basically, AI sudah bukan sekadar “future of work”.

It’s becoming part of work itself.

56,8% Pekerjaan Memakai Keterampilan AI dan Digital, Apa Artinya?

Pekerjaan

Kalau kita menggunakan angka 56,8% sebagai gambaran awal, jangan langsung membayangkan lebih dari separuh pekerja Indonesia sekarang harus menjadi programmer atau AI engineer.

That’s not how digital transformation works.

Keterampilan digital memiliki spektrum yang sangat luas.

Seorang digital marketer menggunakan analytics platform untuk memahami performa campaign. HR menggunakan applicant tracking system untuk recruitment. Finance menggunakan spreadsheet, dashboard, dan software accounting. Designer bekerja menggunakan digital creative tools. Sales menggunakan CRM. Customer service menggunakan chatbot dan ticketing system.

Bahkan UMKM sekarang menggunakan marketplace, QR payment, aplikasi kasir, WhatsApp Business, sampai platform social media untuk menjalankan bisnis.

AI memperluas landscape tersebut.

Karyawan sekarang bisa menggunakan generative AI untuk membuat draft, merangkum dokumen, brainstorming, menganalisis informasi, membantu coding, atau mempercepat pekerjaan administratif.

Jadi, ketika membicarakan keterampilan AI dan digital, konteksnya jauh lebih luas daripada pekerjaan di perusahaan teknologi.

AI Mulai Masuk ke Workflow Pekerja Indonesia

Perubahan tersebut sudah mulai terlihat dari cara pekerja Indonesia menggunakan teknologi.

PwC’s Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 yang dipublikasikan untuk Indonesia pada Februari 2026 menunjukkan tingkat adopsi AI Indonesia mencapai 69%, lebih tinggi dibandingkan tingkat penggunaan global dalam survei tersebut yang sebesar 54%.

Lebih interesting lagi adalah dampak yang dirasakan pekerja.

Di Indonesia, 96% pengguna harian generative AI dalam survei tersebut melaporkan peningkatan produktivitas, dibandingkan 75% pengguna yang jarang menggunakan teknologi tersebut. Sebanyak 82% pengguna harian juga merasa lebih aman terhadap pekerjaannya, dibandingkan 63% pada kelompok pengguna yang jarang memakai GenAI.

Angka tersebut memberikan perspektif berbeda terhadap narasi “AI akan mengambil semua pekerjaan”.

Di lapangan, sebagian pekerja justru melihat AI sebagai productivity tool.

Mereka bukan berhenti bekerja karena ada AI.

Mereka bekerja differently because AI exists.

Skill AI Bukan Cuma Prompting

Ketika bicara AI skills, banyak orang langsung memikirkan prompt.

“Berarti gue harus jago ChatGPT?”

Well, yes and no.

Prompting memang menjadi bagian dari AI literacy. Tetapi kemampuan bekerja dengan AI jauh lebih luas.

Seorang pekerja harus memahami bagaimana menggunakan AI sesuai konteks pekerjaannya, mengevaluasi output, mengecek kesalahan, memahami risiko data, dan menentukan kapan AI sebaiknya tidak digunakan.

Karena AI bisa memberikan jawaban yang terdengar confident tetapi tetap salah.

That means human judgment matters.

PwC AI Jobs Barometer 2026 bahkan menunjukkan AI meningkatkan pentingnya sejumlah human skills seperti judgement, creativity, dan leadership. Ketika sebagian pekerjaan rutin dapat dibantu otomatisasi, kemampuan manusia untuk membuat keputusan dan memberikan expertise justru menjadi semakin valuable.

Jadi skill masa depan bukan sekadar:

Human atau AI.

Lebih likely:

Human + AI.

Perusahaan Mulai Membayar Lebih untuk AI Skills

Kalau masih menganggap AI cuma trend LinkedIn yang sebentar lagi hilang, data pasar tenaga kerja memberikan picture berbeda.

PwC AI Jobs Barometer 2026 menganalisis lebih dari satu miliar lowongan pekerjaan di enam benua. Hasilnya menunjukkan lowongan yang membutuhkan AI skills tumbuh sekitar 69%, sementara pasar kerja secara keseluruhan tumbuh sekitar 9%. Dengan kata lain, pertumbuhan lowongan yang membutuhkan AI skills hampir delapan kali lebih cepat.

Dan AI skills bukan hanya meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan.

There is money involved.

PwC menemukan rata-rata pekerja dengan keterampilan AI mendapatkan wage premium sekitar 62%, naik dari 57% pada tahun sebelumnya. Besarnya premium tersebut memang berbeda antarindustri, tetapi signal-nya cukup clear: perusahaan semakin menghargai kemampuan AI.

Ini tidak berarti belajar menggunakan satu AI tool otomatis membuat gaji naik 62%.

Important distinction.

Data tersebut menunjukkan adanya premium di pasar kerja untuk pekerjaan yang membutuhkan AI skills, bukan guarantee kenaikan gaji individual.

Tetapi arah perubahannya sulit diabaikan.

Digital Skill Sekarang Bukan Cuma Milik Anak IT

Ada misconception lain yang perlu dibuang: digital skill hanya penting untuk programmer.

Not anymore.

ADB pada laporan Skills That Pay: Digital Skills Demand and Wage Premia in Asia and the Pacific menganalisis jutaan job postings dari enam ekonomi selama periode 2019–2024.

Salah satu temuannya adalah permintaan digital skills telah menyebar ke berbagai occupational structure. Artinya, digitalisasi tidak lagi confined pada pekerjaan ICT-intensive atau pekerjaan dengan skill level sangat tinggi.

Ini sangat masuk akal kalau melihat workplace modern.

Marketing membutuhkan analytics.

Finance membutuhkan data processing.

Operations menggunakan automation.

HR menggunakan digital recruitment platform.

Designer bekerja menggunakan software kreatif.

Project manager menggunakan collaboration tools.

Business owner menggunakan digital payment dan marketplace.

Bahkan pekerjaan yang secara tradisional dianggap “offline” increasingly memiliki digital layer.

The workplace has changed. Gen Z sering dianggap sebagai digital native. Mereka tumbuh dengan smartphone, social media, aplikasi, dan internet. Tetapi familiar dengan teknologi tidak automatically berarti memiliki professional digital skills.

Bisa menggunakan TikTok tidak sama dengan memahami digital marketing.

Bisa menggunakan ChatGPT tidak sama dengan memahami AI.

Bisa membuat spreadsheet tidak sama dengan data analysis. Ada perbedaan besar antara digital consumption dan digital capability.

Menariknya, data PwC menunjukkan pekerja muda Indonesia memang terlihat cukup enthusiastic terhadap AI. Dalam survei Indonesia tersebut, 41% Gen Z dilaporkan menggunakan GenAI setiap hari untuk pekerjaannya, dibandingkan 14% Gen X dan 5% Baby Boomers.

Ini memberikan early advantage.

Tetapi advantage tersebut hanya meaningful kalau penggunaan AI berkembang dari sekadar “bikin tulisan lebih cepat” menjadi kemampuan menyelesaikan business problem.

AI Bisa Mengubah Pekerjaan Entry-Level

Salah satu dampak AI yang perlu diperhatikan generasi muda adalah perubahan pada pekerjaan entry-level.

Traditionally, pekerja junior belajar melalui tugas sederhana.

Membuat summary.

Menyusun report.

Melakukan basic research.

Menginput data.

Membuat draft.

Problem-nya, banyak tugas tersebut sekarang bisa dibantu AI.

PwC AI Jobs Barometer 2026 menemukan bahwa pada data Amerika Serikat, posisi entry-level dengan paparan AI tinggi tujuh kali lebih mungkin meminta keterampilan yang sebelumnya lebih identik dengan level senior, seperti judgement dan leadership.

Implikasinya interesting.

AI mungkin tidak menghapus posisi junior secara total, tetapi expectation terhadap junior bisa meningkat.

Perusahaan bisa mulai berpikir:

“Kalau AI sudah bisa membantu pekerjaan basic, apa value tambahan yang kamu bawa?”

That’s the uncomfortable question.

Jangan Cuma Belajar Tool, Belajar Cara Berpikir

Tools berubah extremely fast.

Hari ini satu AI platform trending.

Enam bulan kemudian muncul platform baru.

Tahun depan mungkin workflow-nya sudah completely different.

Karena itu, strategi paling sustainable bukan menghafal satu tool.

Bangun fundamental skills.

Mulai dari digital literacy yakni memahami file management, collaboration platform, keamanan digital, cloud services, dan berbagai tools kerja.

Kemudian data literacy yakni membaca data, memahami grafik, menggunakan spreadsheet, mengenali correlation versus causation, dan mengambil keputusan berdasarkan evidence.

Tambahkan AI literacy untuk memahami kemampuan dan keterbatasan AI, prompting, verification, privacy, serta penggunaan AI yang responsible.

Setelah itu, jangan lupa human skills.

Communication.

Critical thinking.

Creativity.

Leadership.

Problem solving.

Adaptability.

Ironically, semakin capable AI, semakin penting manusia punya kemampuan menentukan apakah hasil AI actually makes sense.

Transformasi digital terdengar exciting sampai kita membicarakan akses belajar.

Tidak semua pekerja mendapatkan kesempatan yang sama.

PwC menemukan adanya upskilling divide dalam surveinya. Di Indonesia, 64% pekerja non-manajer merasa memiliki akses terhadap learning resources yang mereka butuhkan, sedangkan pada senior executives angkanya mencapai 89%.

Gap tersebut penting.

Karena orang yang paling membutuhkan upskilling justru tidak selalu mendapatkan akses terbaik.

Kalau perusahaan ingin benar-benar melakukan AI transformation, membeli software saja tidak cukup.

People need training.

Karyawan perlu memahami bagaimana AI digunakan.

Manajer perlu tahu bagaimana mengintegrasikan AI ke workflow.

Organisasi juga membutuhkan governance mengenai data, keamanan, dan penggunaan AI yang responsible.

Digital transformation without workforce transformation is basically an expensive software subscription.

Apakah AI Akan Mengambil Pekerjaan Kita?

Probably some tasks, yes.

Tetapi “task” dan “job” bukan selalu hal yang sama.

Satu pekerjaan terdiri atas berbagai aktivitas.

Seorang marketer mungkin melakukan research, menulis copy, membaca analytics, meeting dengan client, membuat strategi, dan mengevaluasi campaign.

AI mungkin membantu research dan draft copy.

Tetapi menentukan positioning brand, memahami stakeholder, bernegosiasi dengan client, serta membuat strategic decision membutuhkan konteks yang jauh lebih kompleks.

Karena itu, perubahan terbesar mungkin bukan pekerjaan hilang secara overnight.

Yang lebih realistic adalah job redesign.

Pekerjaan tetap ada tetapi task composition berubah.

Orang yang sebelumnya menghabiskan tiga jam membuat report mungkin hanya membutuhkan 45 menit dengan bantuan AI.

Pertanyaannya kemudian:

Apa yang dilakukan dengan sisa waktunya?

Kalau digunakan untuk deeper analysis, innovation, dan customer engagement, productivity meningkat.

Kalau tidak ada redesign workflow, AI cuma menjadi fancy shortcut.

Tidak semua orang perlu menjadi machine learning engineer.

Kalau kamu bekerja di marketing, pelajari bagaimana AI membantu research, segmentation, content ideation, analytics, dan campaign optimization.

Kalau di finance, fokus pada spreadsheet tingkat lanjut, data visualization, automation, dan penggunaan AI untuk membantu analysis tanpa mengabaikan verifikasi.

Kalau di HR, pahami HR analytics, recruitment technology, automation, dan responsible AI dalam proses talent management.

Kalau kamu designer, explore bagaimana generative AI bisa membantu ideation tanpa menghilangkan kemampuan visual judgment dan art direction.

Kalau bekerja di operations, cari repetitive process yang bisa diotomatisasi.

The key is context.

Jangan belajar AI secara abstract.

Belajar AI dalam hubungan dengan pekerjaan yang ingin kamu lakukan.

Indonesia Punya Opportunity yang Besar

Transformasi AI juga membuka peluang ekonomi yang substantial.

Indonesia memiliki populasi besar, digital economy yang berkembang, dan basis pengguna teknologi yang luas. Investasi terhadap infrastruktur cloud dan AI juga terus masuk.

Microsoft, misalnya, pada 2024 mengumumkan investasi US$1,7 miliar untuk cloud dan AI infrastructure di Indonesia selama empat tahun, sekaligus program AI skilling untuk 840.000 orang.

Investasi infrastructure seperti ini membutuhkan manusia yang mampu memanfaatkannya.

Data center membutuhkan engineer.

AI applications membutuhkan developer.

Perusahaan membutuhkan data talent.

Bisnis membutuhkan orang yang mampu menerjemahkan AI menjadi productivity.

Dan masyarakat membutuhkan digital literacy agar teknologi tidak sekadar digunakan, tetapi dipahami.

56,8% Bukan Cuma Angka tentang Teknologi

Kalau angka 56,8% pekerjaan di Indonesia yang memakai keterampilan AI dan digital digunakan sebagai starting point, message terpentingnya bukan bahwa semua orang harus menjadi programmer.

Pesannya adalah definisi “siap kerja” sedang berubah.

Dulu seseorang bisa mengandalkan gelar, technical skill tertentu, kemudian menggunakan kemampuan tersebut bertahun-tahun.

Sekarang skill cycle bergerak lebih cepat.

AI membuat perubahan tersebut semakin intense.

Pekerja masa depan kemungkinan bukan orang yang mengetahui semua hal. That’s impossible.

Yang lebih valuable adalah orang yang bisa belajar cepat, menggunakan teknologi dengan tepat, mengevaluasi informasi secara kritis, dan terus beradaptasi ketika tools berubah.

AI tidak otomatis membuat manusia irrelevant.

Tetapi orang yang mampu bekerja bersama AI mungkin mempunyai advantage dibandingkan orang yang completely mengabaikannya.

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevant bukan lagi:

“Apakah pekerjaan saya akan memakai AI?”

Melainkan:

“Ketika AI masuk ke pekerjaan saya, skill apa yang membuat saya tetap valuable?”

Jawabannya kemungkinan bukan satu skill.

Digital literacy memberikan fondasi.

AI literacy meningkatkan productivity.

Data literacy membantu mengambil keputusan.

Critical thinking memastikan teknologi tidak digunakan blindly.

Dan human skills memberikan sesuatu yang masih extremely difficult untuk direplikasi hanya dengan sebuah prompt: judgement, empathy, leadership, creativity, dan pemahaman konteks.

Indonesia punya peluang besar dalam transformasi ini.

Tetapi opportunity tersebut hanya akan meaningful kalau perkembangan teknologi berjalan bersama perkembangan manusianya.

Because the future of work isn’t just about smarter machines.

Referensi

  1. Asian Development Bank (ADB). Skills That Pay: Digital Skills Demand and Wage Premia in Asia and the Pacific. Juni 2026. Analisis jutaan lowongan pekerjaan mengenai permintaan digital dan AI skills serta wage premium di enam ekonomi Asia-Pasifik.
  2. PwC Indonesia. Adopsi AI Mendongkrak Produktivitas, Terutama bagi Gen Z Indonesia, Namun Kesenjangan Keterampilan Antar Generasi Masih Menjadi Tantangan. 23 Februari 2026. Berdasarkan PwC Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 dengan 812 responden Indonesia.
  3. PwC Indonesia. AI Jobs Barometer 2026: AI Mendorong Transformasi Dunia Kerja dan Meningkatkan Permintaan atas Keterampilan Manusia. 13 Juli 2026. Analisis lebih dari satu miliar lowongan kerja di enam benua mengenai AI skills, pertumbuhan pekerjaan, produktivitas, dan wage premium.
  4. Associated Press. Microsoft Will Invest $1.7 Billion in AI and Cloud Infrastructure in Indonesia. Informasi mengenai investasi cloud dan AI Microsoft serta program pengembangan keterampilan AI untuk 840.000 orang di Indonesia.

Oleh bernikoyanuar

Saya percaya bahwa karier bukan cuma soal jabatan, tapi juga soal nilai dan arah. Di sini saya berbagi strategi pengembangan diri, personal branding, dan kehidupan profesional yang tetap manusiawi.