Ringkasan: Ternyata pekerja SD ke bawah 35,40%, diploma ke atas hanya 13,18%. Itu hasil Sakernas BPS Mei 2026 dari 148,19 juta penduduk bekerja. Sebanyak 52,46 juta orang bekerja dengan ijazah SD atau lebih rendah. Lulusan diploma hingga S3 sekitar 19,5 juta orang. Data yang sama juga mencatat 1,03 juta sarjana menganggur. Panduan ini membedah angkanya, menghitung indeks yang kami olah sendiri, lalu menyusun langkah naik kelas karier dari titik mana pun kamu berdiri.
Apa itu Ternyata Pekerja SD ke Bawah 35,40%, Diploma ke Atas Hanya 13,18%?

Angka ini adalah distribusi penduduk bekerja menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan, dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS Mei 2026. Sebanyak 35,40% pekerja berpendidikan SD ke bawah. Pekerja lulusan diploma hingga S3 berjumlah sekitar 13,18%. Angka ini memotret struktur tenaga kerja nasional, bukan menilai harga diri seseorang.
Mengapa Ini Penting di 2026?

BPS merilis hasil Sakernas Mei 2026 pada 5 Agustus 2026. Menurut rilis resmi BPS, angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang. Penduduk bekerja berjumlah 148,19 juta orang, naik 522 ribu dari Februari 2026.
Kabar baiknya ada di sisi pengangguran. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun ke 4,65%. Kumparan melaporkan angka itu sebagai yang terendah sejak 1994.
Lalu mengapa komposisi pendidikannya jadi sorotan? Karena BPS menyebut tingkat pendidikan pekerja bisa mengindikasikan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Selama porsi pekerja berpendidikan rendah masih terbesar, tekanan pada upah dan produktivitas ikut bertahan.
Buat kamu sebagai individu, angka ini punya tiga makna praktis:
- Persaingan di pasar kerja tidak sesederhana “ijazah tinggi pasti menang”.
- Kesenjangan upah antarjenjang pendidikan masih lebar.
- Skill yang bisa dibuktikan makin menentukan, apa pun ijazahmu.
Kami membahas sisi pengangguran terdidik pada data Februari 2026 di artikel ijazah S1 yang ternyata bukan jaminan kerja. Panduan ini memperbarui gambaran itu dengan data Mei 2026.
Rincian Pekerja Indonesia Menurut Pendidikan (Mei 2026)

[Sumber: BPS Sakernas Mei 2026, dilaporkan Kontan, detikFinance, dan GoodStats]
| Jenjang pendidikan | Porsi penduduk bekerja | Jumlah (juta orang) |
| SD ke bawah | 35,40% | 52,46 |
| SMP | 17,58% | ~26,05 (hitungan redaksi) |
| SMA | 20,72% | 30,71 |
| SMK | 13,12% | 19,44 |
| Diploma I/II/III | 2,42% | 3,59 |
| Diploma IV, S1, S2, S3 | 10,75% | 15,93 |
| Total | ~100% | 148,19 |
Ada satu catatan hitungan. Jika 2,42% dan 10,75% dijumlah, hasilnya 13,17%. BPS menyebut 13,18% saat konferensi pers, dan GoodStats menulis 13,17% dari total 19,52 juta orang. Selisih 0,01 poin itu berasal dari pembulatan. Kami memakai 13,18% karena itu angka yang BPS ucapkan sendiri.
Dari sisi jumlah, pekerja SD ke bawah sekitar 2,7 kali lipat pekerja diploma ke atas. Hitungannya 52,46 juta dibanding 19,52 juta.
Tren: Apakah Porsi Pekerja SD ke Bawah Menurun?

Jawabannya: menurun pelan, bukan anjlok. Kontan mencatat porsi pekerja SD ke bawah turun dari 35,89% pada Februari 2025 menjadi 35,40% pada Mei 2026. Dibanding Februari 2026, penurunannya 0,09 poin menurut GoodStats.
| Periode | SD ke bawah | Diploma ke atas |
| Agustus 2023 | 36,82% | tidak tersedia |
| Agustus 2024 | 35,80% | 12,82% |
| Februari 2025 | 35,89% | tidak tersedia |
| Agustus 2025 | 34,75% | 13,06% |
| Mei 2026 | 35,40% | 13,18% |
Sumber: Bisnis.com (rilis BPS 5 November 2025), Kontan, Katadata. Redaksi menyusun ulang menjadi satu tabel.
Jangan membaca tabel ini sebagai garis lurus. Sakernas Februari dan Mei punya pola musiman berbeda dari Agustus. Angka Agustus 2025 (34,75%) tidak sebanding langsung dengan Mei 2026 (35,40%). Bandingkan periode yang sama, atau tunggu rilis Agustus 2026.
Satu tren tetap terbaca jelas. Porsi diploma ke atas naik dari 12,82% (Agustus 2024) ke 13,18% (Mei 2026). Naiknya kecil, tapi arahnya konsisten.
Data Olahan Redaksi: Siapa yang Paling Rentan Menganggur?

[ANALISIS REDAKSI — dihitung dari data BPS, bukan angka resmi BPS]
Porsi tiap jenjang di antara penduduk bekerja tidak sama dengan porsinya di antara penganggur. Kami membandingkan keduanya dalam satu indeks sederhana. Rumusnya: porsi jenjang di antara penganggur dibagi porsi jenjang di antara penduduk bekerja.
Indeks di atas 1,00 berarti jenjang itu lebih banyak di barisan penganggur daripada di barisan pekerja. Indeks di bawah 1,00 berarti sebaliknya.
| Jenjang | Porsi di antara pekerja | Porsi di antara penganggur | Indeks |
| SD ke bawah | 35,40% | 17,18% | 0,49 |
| SMP | 17,58% | 15,65% | 0,89 |
| SMA | 20,72% | 28,00% | 1,35 |
| SMK | 13,12% | 22,39% | 1,71 |
| Diploma I/II/III | 2,42% | 2,48% | 1,02 |
| Diploma IV, S1, S2, S3 | 10,75% | 14,31% | 1,33 |
Sumber data: porsi pekerja dari detikFinance dan GoodStats; porsi penganggur dari rincian Sakernas Mei 2026 yang dilaporkan detikFinance dan Kumparan. Total penganggur Mei 2026: 7,22 juta orang.
Tiga hal menonjol dari tabel ini.
Pertama, lulusan SMK paling mencolok. Indeksnya 1,71. Mereka 13,12% dari pekerja, tetapi 22,39% dari penganggur.
Kedua, sarjana tidak otomatis aman. Lulusan D4 sampai S3 punya indeks 1,33. Jumlah mereka di barisan penganggur mencapai 1,03 juta orang, atau 14,31% dari 7,22 juta penganggur.
Ketiga, indeks SD ke bawah yang rendah (0,49) bukan tanda keamanan. Ini interpretasi kami, bukan temuan BPS. Orang berpendidikan rendah sering tidak punya ruang untuk menganggur. Mereka mengambil pekerjaan apa pun yang ada, sering di sektor informal. Karena itu pengangguran terbuka mereka rendah, tetapi kualitas pekerjaannya belum tentu baik.
Kalau kamu butuh pembanding Februari 2026, TPT lulusan pendidikan tinggi saat itu 6,13% menurut data yang kami rangkum di artikel sebelumnya. Polanya konsisten: pendidikan tinggi belum menjamin pekerjaan.
Sektor, Status Kerja, dan Upah: Konteks di Balik Angka

Angka pendidikan baru masuk akal jika dilihat bersama struktur lapangan kerjanya. Katadata melaporkan tiga sektor terbesar penyerap tenaga kerja pada Mei 2026:
- Pertanian, kehutanan, dan perikanan: 28,75% (42,60 juta orang).
- Perdagangan besar dan eceran: 17,80%.
- Industri pengolahan: 13,53%.
Status kerjanya juga berpengaruh. Pekerja informal masih mendominasi dengan porsi 59,30%, sekitar 87,88 juta orang. Pekerja formal 40,70%, atau 60,31 juta orang, naik tipis dari 40,58% pada Februari 2026.
Pekerjaan di sektor informal dan primer umumnya tidak mensyaratkan ijazah tinggi. Itu salah satu alasan struktur pendidikan pekerja berubah lambat.
Lalu bagaimana dengan upah? BPS mencatat rata-rata upah buruh Mei 2026 sebesar Rp3,39 juta. Menurut rincian yang dilaporkan media dari rilis Sakernas, lulusan D4 sampai S3 rata-rata menerima Rp4,99 juta. Lulusan SD ke bawah rata-rata Rp2,12 juta.
Selisihnya Rp2,87 juta per bulan, atau sekitar 2,35 kali lipat. Hitungan selisih itu dari redaksi.
Ini berlaku untuk rata-rata, bukan jaminan individu. Kami membahas faktor lain yang menggerakkan angka gaji di artikel rahasia negosiasi gaji profesional.
Paradoks: Ijazah Tinggi, Tetapi Satu Juta Sarjana Menganggur

Data Mei 2026 memuat paradoks yang perlu dibaca hati-hati. Pekerja berpendidikan tinggi masih langka, tetapi lulusan D4 sampai S3 yang menganggur berjumlah 1,03 juta orang. Lulusan Diploma I sampai III yang menganggur 180 ribu orang atau 2,48%.
Dua fakta ini bisa benar bersamaan karena sebab yang berbeda. Berikut hipotesis yang didukung data, bukan kesimpulan pasti:
- Ketidaksesuaian kompetensi. Data Sakernas Februari 2026 yang kami bahas sebelumnya mencatat 22,36% pekerja muda tergolong overeducated.
- Penalti upah. Pada data yang sama, pekerja overeducated menerima upah rata-rata 7,57% lebih rendah.
- Celah persiapan. Lulusan sering sulit mengomunikasikan kompetensi saat seleksi kerja.
Di sisi perekrut, arah perubahannya terlihat. Survei Coursera yang kami rangkum di artikel rekrutmen berbasis skill di Indonesia menyebut 97% perusahaan Indonesia menerapkan rekrutmen berbasis keahlian untuk posisi entry level. Laporan yang sama mencatat 96% pemberi kerja bersedia menawarkan gaji awal lebih tinggi bagi lulusan bersertifikat kompetensi.
Angka-angka itu berasal dari survei, bukan sensus. Gunakan sebagai arah tren, bukan kepastian untuk setiap perusahaan.
7 Temuan Kunci dari Data Sakernas Mei 2026

| # | Temuan | Angka | Sumber |
| 1 | Pekerja SD ke bawah masih kelompok terbesar | 35,40% (52,46 juta) | BPS via Kontan |
| 2 | Pekerja diploma ke atas masih minoritas | 13,18% | BPS via Katadata |
| 3 | Porsi SD ke bawah menurun pelan sejak Feb 2025 | 35,89% → 35,40% | Kontan |
| 4 | Pekerja informal masih mayoritas | 59,30% (87,88 juta) | BPS via Katadata |
| 5 | Pertanian menyerap pekerja terbanyak | 28,75% (42,60 juta) | BPS |
| 6 | Sarjana D4–S3 yang menganggur | 1,03 juta (14,31% penganggur) | BPS via detikFinance |
| 7 | Selisih upah rata-rata D4–S3 dan SD ke bawah | Rp4,99 juta vs Rp2,12 juta | Laporan media atas rilis BPS |
Kalau kamu hanya punya waktu satu menit, ingat poin ini: struktur pendidikan pekerja berubah lambat, tetapi nilai skill yang terbukti berubah cepat.
Mengapa Kesenjangan Ini Bertahan? (Analisis Redaksi)

Bagian ini adalah analisis kami. Bukan klaim BPS, dan kami tidak menyajikannya sebagai fakta tunggal.
Struktur lapangan kerja belum bergeser cepat. Pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan menyerap hampir 60% pekerja. Dari total itu, banyak posisi yang tidak mensyaratkan pendidikan formal tinggi.
Informalitas menahan peningkatan kualitas. Dengan 59,30% pekerja informal, jalur karier berjenjang tidak tersedia bagi sebagian besar pekerja. Naik level sering berarti pindah sektor, bukan naik jabatan.
Pendidikan tinggi tidak otomatis cocok dengan kebutuhan industri. Indeks pengangguran sarjana 1,33 menunjukkan sinyal itu. Pasar menghargai kemampuan yang bisa dibuktikan.
Skill baru bergerak lebih cepat daripada kurikulum. Survei Coursera yang kami rangkum menyebut 85% perusahaan Indonesia memperkirakan lebih dari 30% keahlian inti berubah menjelang 2030. Kami membahas pergeseran pekerjaan ke arah digital di artikel pekerjaan yang kini memakai keterampilan AI dan digital.
Kesimpulan kami sederhana. Angka 35,40% dan 13,18% bukan vonis. Keduanya peta tentang di mana pasar kerja Indonesia berdiri hari ini.
Cara Memanfaatkan Data Ini untuk Kariermu: Step by Step

Berikut langkah yang bisa kamu jalankan, apa pun jenjang pendidikanmu.
- Tentukan posisimu di peta. Catat pendidikan terakhir, sektor tempatmu bekerja, dan status kerja (formal atau informal). Dari situ kamu tahu kelompok mana di data BPS yang paling mirip denganmu.
- Audit skill terhadap lowongan nyata. Kumpulkan 10 lowongan untuk posisi yang kamu incar. Tandai skill yang muncul berulang, lalu bandingkan dengan yang kamu kuasai.
- Pilih satu skill ungkit. Fokus pada satu kemampuan yang paling sering diminta dan paling mungkin dikuasai dalam 3 bulan. Skill digital dan analitis termasuk kandidat kuat.
- Buktikan dengan portofolio atau sertifikat. Pekerjaan nyata, hasil proyek, atau sertifikat kompetensi lebih mudah dinilai perekrut daripada klaim di CV. Pelajari bedanya di artikel kami soal sertifikat mikro yang makin dilirik di 2026.
- Latih cara menceritakan hasil kerja. Jelaskan situasi, tindakan, dan hasil secara spesifik. Celah persiapan sering terjadi di tahap ini, bukan di tahap skill.
- Negosiasikan nilai, bukan sekadar angka. Siapkan data pembanding upah dan hasil kerjamu sebelum diskusi gaji.
- Pantau rilis data berikutnya. Sakernas Agustus 2026 akan memperbarui peta ini. Cek BPS dan sesuaikan strategimu.
Panduan Singkat Menurut Posisi Awal

Jika pendidikan terakhirmu SD atau SMP. Fokus pada sertifikasi kompetensi di bidang kerjamu dan pelatihan vokasi. Cek program pemerintah seperti Kartu Prakerja dan balai latihan kerja di situs resminya, karena kuota dan syaratnya bisa berubah. Pertimbangkan juga pendidikan kesetaraan jika perusahaan targetmu mensyaratkan ijazah.
Jika kamu lulusan SMA atau SMK. Kelompok ini punya indeks pengangguran tertinggi (1,35 dan 1,71) menurut hitungan redaksi. Jangan menunggu lowongan sempurna. Ambil posisi yang membangun skill, lalu tambah sertifikasi yang dicari industri.
Jika kamu lulusan diploma atau sarjana. Ijazahmu langka (13,18% pekerja), tetapi bukan penentu tunggal. Buktikan kecocokan dengan kebutuhan industri lewat portofolio, magang, atau proyek nyata. Strategi lanjutan ada di artikel rekrutmen berbasis skill tadi.
Cara Kami Membaca Data Ini

Redaksi membandingkan rilis BPS Mei 2026 dengan data Februari 2026 yang kami bahas sebelumnya. Kami memeriksa angka pokok di beberapa media nasional (Kontan, Katadata, detikFinance, Kumparan, Bisnis) dan rilis resmi BPS.
Angka yang berbeda tipis kami tandai, seperti 13,17% dan 13,18%. Hitungan turunan kami beri label jelas, termasuk indeks keterwakilan dan selisih upah.
Keterbatasan kami: beberapa rincian per jenjang, seperti upah dan pengangguran, kami ambil dari laporan media atas rilis BPS, bukan dari tabel mentah. Untuk keputusan penting, buka tabel resmi di situs BPS.
FAQ — Ternyata Pekerja SD ke Bawah 35,40%, Diploma ke Atas Hanya 13,18%
Apa itu Ternyata Pekerja SD ke Bawah 35,40%, Diploma ke Atas Hanya 13,18%?
Itu hasil Sakernas BPS Mei 2026. Dari 148,19 juta penduduk bekerja, 35,40% berpendidikan SD ke bawah dan sekitar 13,18% lulusan diploma hingga S3. Angka ini menggambarkan struktur pendidikan tenaga kerja Indonesia.
Berapa jumlah pekerja lulusan SD ke bawah di Indonesia?
Pada Mei 2026, jumlahnya 52,46 juta orang, atau 35,40% dari total 148,19 juta penduduk bekerja. Mereka masih kelompok terbesar dalam struktur pekerja nasional.
Berapa persen pekerja lulusan sarjana di Indonesia?
Lulusan D4, S1, S2, dan S3 mencapai 15,93 juta orang atau 10,75% dari penduduk bekerja per Mei 2026. Jika ditambah lulusan Diploma I sampai III (2,42%), totalnya sekitar 13,18%.
Bagaimana cara memulai naik kelas karier dari data ini?
Cara memulai: 1) Tentukan posisimu di peta data BPS. 2) Audit skill terhadap 10 lowongan nyata. 3) Pilih satu skill ungkit. 4) Buktikan lewat portofolio atau sertifikat. 5) Latih cara menceritakan hasil kerja.
Apakah ijazah tinggi menjamin pekerjaan?
Tidak otomatis. Pada Mei 2026, 1,03 juta lulusan D4 sampai S3 menganggur, atau 14,31% dari 7,22 juta penganggur menurut BPS. Skill yang terbukti makin menentukan hasil seleksi.
Ditulis oleh redaksi Bernice Thrive, yang membahas pengembangan diri, personal branding, dan kehidupan profesional.
